E-Learning Solusi Pemerataan Pendidikan Di Negara Kepulauan, Indonesia - CerdasManfaat.com : Kumpulan Tulisan Cerdas Dan Manfaat

Breaking

Home Top Ad

Wednesday, 18 December 2013

E-Learning Solusi Pemerataan Pendidikan Di Negara Kepulauan, Indonesia


"135 juta penduduk Indonesia
Terdiri dari banyak suku-bangsa
Itulah Indonesia
Ada Sunda, ada Jawa
Aceh, Padang, Batak
Dan banyak lagi yang lainnya
....."

Ada yang pernah dengar lagu itu?
Iya benar, lagu itu adalah lagu berjudul 135 juta yang  dinyanyikan oleh Rhoma Irama pada tahun 1977 kala jumlah penduduk Indonesia sebanyak 135juta!
Wow... luar biasa, masyaallah ya... saya saja belum lahir.. ups maksudnya banyak banget jumlah penduduknya...

Tahun 1977 itu berarti sudah 36 tahun yang lalu... jumlah penduduk negara kita sudah sedemikian banyak, apalagi saat ini ya, tentu semakin banyak lagi.

Little view of Indonesia | foto : wikipedia.org

Sebagaimana kita ketahui, bahwa negara kita adalah negara kepulauan dengan 17,508 pulau!
Penduduknya tersebar di sebegitu banyaknya pulau, yang terpisah lautan, tentu merupakan suatu masalah tersendiri yang perlu dipikirkan untuk bagaimana bisa menjangkau seluruh penduduknya yang terpisah-pisah seperti itu.

Grafik prosentasi penyebaran penduduk di seluruh propinsi Indonesia, berdasarkan sensus penduduk 2010

Data sensus penduduk Indonesia 2010, diurutkan berdasarkan kolom Prosentase (descending) 

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 di atas, jumlah penduduk Indonesia sebanyak lebih dari 237 juta jiwa (tahun 2013 ini diperkirakan sudah melebihi 240 juta). Dan laju pertumbuhan penduduk setiap tahunnya berkisar 3,5 juta.

Dari 17,508 pulau di Indonesia, 57,5% penduduknya terkumpul di "pulau" bernama Jawa, sedang separuh penduduknya lagi tersebar di sekian ribu pulau lainnya.

Dari sini saja sudah dengan sangat jelas bahwa tidak ada pemerataan disini, hampir semuanya terkonsentrasi dan terpusat di Pulau Jawa. Termasuk juga faktor pendidikan.

Berapa banyak sekolah yang ada di Pulau Jawa dibandingkan dengan banyaknya sekolah-sekolah di luar Jawa? Jika dilihat dari sebaran penduduknya, bisa diprediksi 50% lebih sekolah-sekolah juga terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Bagaimana nasib pendidikan putra-putri negeri yang ada di luar Pulau Jawa?

~~~

Menunggu perubahan dari pemerintah, berapa lama?
Indonesia sudah merdeka selama 68 tahun, namun nasib pendidikan Indonesia masih seperti ini...

Hal inilah salah satu pemicu munculnya beberapa gerakan volunteer yang merupakan gerakan non profit dari beberapa orang yang secara viral bertemu dan berkumpul dalam suatu komunitas peduli pendidikan bangsa.
Salah satunya adalah gerakan Indonesia Mengajar yang menugaskan banyak relawan pengajar muda, lulusan dari berbagai perguruan tinggi terbaik ke berbagai pelosok tanah air untuk mengajar selama 1 tahun di sekolah-sekolah terpencil yang kekurangan guru, secara sukarela!

~~~

Di satu sisi, internet sebagai salah satu penemuan teknologi terhebat abad 21, yang ditemukan pada tahun 1990-an telah menjelma menjadi raksasa perubahan yang masuk ke dalam berbagai segi kehidupan. Menjadi bagian dari life style.

Kemudahan dan kecepatannya dalam bertukar informasi, seolah-olah menghilangkan batas negara, perbedaan waktu dan tempat!

foto : ediff.com

Berbagai kejadian di belahan bumi yang lain, bahkan bisa langsung diketahui saat itu juga di belahan dunia lainnya.

Kecepatan pertukaran informasinya, juga kemudahan bagi banyak orang untuk mengaksesnya, menyebabkan banjirnya informasi di dunia internet / dunia maya, yang membuat hampir semua informasi dapat dengan mudah didapatkan.
Tentu saja hal ini adalah suatu peluang bagi bangsa Indonesia yang mengalami masalah pemerataan pendidikan.

~~~

Dengan bantuan internet, berbagai informasi bisa dengan mudah mencapai daerah-daerah terpencil di Indonesia yang kekurangan sekolah, kekurangan guru, kekurangan modul pengajaran, kekurangan informasi.
Saat ini penetrasi internet di Indonesia adalah 30%, dan diperkirakan tahun 2014 nanti akan tembus melebihi 107 juta pengguna dan 150 juta pengguna pada tahun 2015.

Kepala Departemen Pendaftaran Internet Nasional APJII Valens Riyadi mengatakan, angka penetrasi internet terhadap populasi menyebar rata di sebagian besar wilayah Indonesia.
Data survei APJII memperlihatkan jumlah terbesar pengguna internet di Indonesia berada di pulau Jawa, tetapi angka penetrasi internet di pulai ini relatif sama dengan daerah-daerah lain. (sumber : disini)

Meningkatnya pengguna internet diantaranya karena disupport oleh pelanggan selular yang mengakses internet dari telepon genggamnya.

Tahun 2012 sebanyak 48% dari total 290 juta pengguna selular (banyak yang menggunakan 2 atau lebih nomor telepon) mengakses internet yang diselenggarakan oleh beberapa operator selular.

Penetrasi Internet di Indonesia dan pelanggan telepon genggam per 100 penduduk | foto : citizenlab.org/


Meningkatnya dan semakin banyaknya pengguna internet di Indonesia, hal ini bisa dijadikan jembatan untuk kemudahan penyebaran pendidikan di daerah-daerah yang masih kekurangan sekolah, juga guru pengajar, melalui berbagai modul mendidik yang bisa diakses melalui internet, atau bisa disebut pembelajaran jarak jauh atau e-learning.

e-Learning | foto : esicm.org

E-learning sendiri memiliki pengertian : segala bentuk pembelajaran dan pengajaran (pendidikan) dengan menggunakan media ICT (Information Communication Technology) dalam pelaksanaannya.
Pembelajaran dan pengajaran tersebut bisa berupa :
  • multimedia learning,
  • technology-enhanced learning (TEL),
  • computer-based instruction (CBI),
  • computer-based training (CBT),
  • computer-assisted instruction or computer-aided instruction (CAI),
  • internet-based training (IBT),
  • web-based training (WBT),
  • online education,
  • virtual education,
  • virtual learning environments (VLE)
  • m-learning,
  • and digital educational collaboration lainnya.
E-learning cocok untuk pembelajaran jarak jauh dan belajar fleksibel, dengan atau pun tanpa guru pendamping.

~~~

Hal yang paling krusial dalam penerapan e-learning adalah adanya modul atau materi pengajaran yang baik. Maka dari itu, para guru yang ada perlu menguasai cara penggunaan internet dan pemanfaatannya dalam dunia pendidikan, termasuk dalam hal membuat modul pengajaran.

Guru Menulis | foto : gurusiana.id

Sudah cukup banyak pelatihan terkait komputer dan internet kepada para guru pengajar, diantaranya program Guru Menulis yang diselenggarakan baik oleh lembaga negara, maupun lembaga independen seperti Rumah PerubahanRelawan TIK yang bekerjasama dengan Kominfo, dsb yang tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia, juga berbagai lomba sejenis untuk mengasah kemampuan para guru pengajar dalam menulis materi pendidikannya yang diselenggarakan oleh berbagai penerbit dan media.

Selain membuat modul pembelajaran sendiri, di internet juga banyak modul-modul pembelajaran gratis yang bisa dimanfaatkan untuk dunia pendidikan, diantaranya :
  • KhanAcademy.org : menyediakan berbagai materi pembelajaran gratis untuk siswa, guru, siapa saja.
  • Youtube.com : menyediakan berbagai video seminar dan pelatihan, juga tutorial, termasuk sharing dari seorang profesor.
  • HowStuffWorks.com : menyediakan berbagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang biasanya muncul di benak kita tentang bagaimana segala sesuatu berkerja.
  • IlmuKomputer.com : menyediakan berbagai materi pembelajaran komputer.
  • EchoEcho.com : menyediakan berbagai materi pembelajaran tentang pemrograman komputer.
  • dan masih banyak yang lainnya (mungkin ratusan bahkan jutaan).

e-Learning | foto : infoasaid.org/e-learning

Sedangkan dari sisi anak-anak pengguna e-learning tersebut perlu diberikan pengarahan dan persiapan tentang penggunaan komputer dan internet yang sehat. Sehingga mereka memahami apa manfaat yang akan mereka dapatkan, dan dapat memilah mana informasi yang bermanfaat dan patut diakses, dan mana yang informasi sampah yang tidak bermanfaat.

Perubahan kebiasaan cara pembelajaran juga perlu disosialisasikan dan dibiasakan, karena setiap perubahan pasti menimbulkan gejolak seperti rasa tidak nyaman dan lain sebagainya. Ini justru menjadi masalah yang pertama dan utama dalam sukses tidaknya pelaksanaan e-learning tersebut.

~~~

Meskipun Indonesia adalah negara dengan jumlah pengguna internet terbesar ke delapan di seluruh dunia, namun laju penetrasinya masih cukup rendah. Bahkan yang terendah di Asean.
Hal ini disebabkan oleh berbagai hambatan, di antaranya:
  • belum terbangunnya infrastruktur telekomunikasi pendukung yang memadai, terutama untuk wilayah timur Indonesia,
  • masih mahalnya biaya pemakaian internet karena masih tingginya biaya interkoneksi internasional sampai dengan interkoneksi lokal (last mile),
  • masih kecilnya bandwidth saluran internet di Indonesia,
  • dan masih kecilnya penetrasi komputer di Indonesia.
Adanya hambatan ini, bisa menjadi peluang tersendiri bagi operator selular dan pemerintah untuk menggarap gap yang ada, sehingga bisa meningkatkan jumlah pelanggannya juga sekaligus meningkatkan penetrasi internet Indonesia.

Hasil kesepakatan World Summit on the Information Society tahun 2003 dan 2005, diharapkan seluruh negara di dunia menindak lanjuti Action Plan pembangunan dunia menuju masyarakat informasi, yang menitik beratkan kepada kesejahteraan manusia dengan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Rencana aksi tersebut menyatakan di antaranya pada tahun 2015 diharapkan minimal separuh penduduk dunia harus sudah bisa mengakses informasi dengan menggunakan fasilitas TIK. Selain itu pada tahun yang sama, Indonesia juga akan memasuki masa AFTA atau Asean Free Trade Area yang menuntut Indonesia untuk lebih siap dan berdaya saing dengan negara-negara tetangga yang tergabung di Asean.

Sehingga diakui atau tidak, mau atau tidak mau, pembelajaran melalui e-learning seolah menjadi suatu keharusan bagi semua Guru dan Siswa di Indonesia untuk bisa lebih berdaya saing dan meningkatkan kemampuan diri.

Salam,
Zakia - CerdasManfaat.com



No comments:

Post a Comment